Januari 13, 2008

Contoh pelanggaran computer ethics

Posted in Uncategorized pada 12:56 pm oleh blackhunter

Di Indonesia banyak sekali terjadi pelangaran- pelanggaran computer ethics yang sangat merugikan banyak pihak. Yang paling banyak terjadi di Indonesia seperti pembajakan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri, Baik hardware ataupun software. Melakukan pembajakan sama saja dengan kita membohongi diri kita sendiri. Seharusnya pemerintah harus menindak lanjuti proses – proses pembajakan ini.

Januari 9, 2008

Asus Eee PC Generasi Kedua Diundur

Posted in Uncategorized pada 5:54 am oleh blackhunter

Fransiska Ari Wahyu .

Las Vegas, Amerika Serikat – Dalam ajang Consumer Electronic Show (CES) tahun ini, Asustek batal menghadirkan Eee PC generasi kedua yang selama ini begitu gencar digembor-gemborkan. Peluncuran proyek ini ditunda hingga pertengahan tahun mendatang. Perusahaan ini diduga berusaha menghadirkan piranti wireless yang sesuai dengan Wimax.

Seperti dikutip detikINET dari Softpedia, Rabu (9/1/2008), proyek Eee PC generasi kedua ini merupakan kelanjutan dari Eee PC yang telah menuai sukses sebelumnya. Notebook kedua ini diharapkan akan hadir dengan resolusi 1024×600 dan konektivitas Wimax. Untuk itu, dalam proyek ini Asus didesas-desuskan akan menggunakan sistem operasi Windows XP.

Kemungkinan lain penundaan Eee PC generasi kedua adalah adanya teknologi Intel ‘Echo Peak’ untuk laptop yang akan diperkenalkan pada pertengahan 2008. Teknologi Intel tersebut disinyalir akan diadopsi Asus untuk mendukung konektivitas Wimax pada Eee PC. ( wsh / wsh )

“Web 2.0”

Posted in Uncategorized pada 5:50 am oleh blackhunter

Menurut saya hal ini sangat menarik. Walaupun di Indonesia WEB 2.0 belum berkembang, tetapi seperti yang dikatakan dalam salah satu situs bahwa industri yang berkaitan dengan Web 2.0 ini seharusnya bisa menjadi tonggak kebangkitan Teknologi Informasi Indonesia karena developer Indonesia terbukti tidak kalah dengan developer dari negara lain. FUPEI seperti screenshot di bawah adalah contoh situs web 2.0 terawal yang saya tahu di Indonesia. Jadi kita sebagai generasi muda Indonesia marilah kita majukan negara kita di bidang iptek.

Desember 5, 2007

nama q, bangsa q, internet q

Posted in Uncategorized pada 6:12 am oleh blackhunter

Bisa terbayang tidak ketika internet menjadi semakin global bahkan tanpa perlu hadirnya bridge blogging? Tidak perlu lagi bisa bahasa asing untuk mengetahui apa yang ditulis orang lain dalam bahasa asing? Tidak perlu lagi menerjemahkan Wikimu ke dalam bahasa Inggris untuk bisa diketahui isinya? Mungkin ini yang menjadi dasar pemikiran ICANN dalam meluncurkan program My Name, My Language, My Internet.

ICANN atau Internet Corporation for Assigned Names and Numbers adalah komunitas internet global yang bekerja sama mempromosikan kestabilan dan integritas dari internet. ICANN juga menerima partisipasi masyarakat, bahkan untuk negara yang sedang berkembang seperti Indonesia ada tunjangan dana untuk bisa mengikuti pertemuan tahunan ICANN dan ikut serta dalam membantu menyuarakan suara dunia.

Bila pembaca wikimu ada yang ahli IT dan berniat turut serta mewakili Indonesia dalam gerakan ICANN daftar segera mencoba mendaftar ke http://www.icann.org/fellowships/ sebelum tanggal 26 November 2007 untuk pertemuan tahunan bulan Februari 2008 di New Delhi. Atau bisa juga mempersiapkan persyaratannya untuk pertemuan tahun berikutnya di Paris.

Semoga dengan partisipasi seorang yang kompeten di bidang IT, Indonesia juga bisa terwakili dalam perundingan untuk kebijaksanaan ICANN. Paling tidak suara baru Indonesia yang bergaung di internet menjadi bagian dari suara global!

Desember 4, 2007

PC Linux Siap Saingi Laptop OLPC

Posted in Uncategorized pada 7:45 am oleh blackhunter

Jakarta – Langkah program One Laptop Per Child (OLPC) untuk menyediakan laptop murah siap dihadang Everex. Mereka bakal meluncurkan PC (personal computer) Linux untuk jadi pesaing.

OLPC merupakan program untuk menyediakan laptop murah bagi anak-anak di negara berkembang. Semula laptop XO OLPC ini akan dipatok di kisaran harga US$100 ($1 = Rp 9140, sumber: detikcom), tapi dalam perkembangan harganya terus merambat naik hingga mencapai US$200.

Hal inilah yang coba dimanfaatkan Everex untuk masuk ke segmen pasar PC murah dengan mengeluarkan PC Linux. PC World yang dikutip detikINET, Senin (5/11/2007) melansir, produk Everex ini rencananya akan dibanderol di bawah US$ 300.

Jatuhnya harga komponen komputer menjadi penyebab murahnya harga PC Linux ini. Sementara kenaikan harga RAM mampu diredam dengan turunnya harga mikroprosesor akibat persaingan antar vendor seperti Intel dan Advanced Micro Devices (AMD).

“Orang tentu lebih menyukai produk standar dengan harga yang hampir sama daripada memilih produk yang belum terjamin kualitasnya,” ujar Roger Kay, pendiri dan presiden Endpoint Technologies Associates.

Meski demikian, Ben Bajarin seorang analis dari Creative Strategies mengatakan, target konsumen dari dua produk ini sedikit berbeda. Laptop OLPC tidak ditujukan bagi konsumen di AS layaknya PC Linux Everex, melainkan lebih kepada konsumen di negara berkembang.

Tujuannya, agar anak-anak di negara berkembang memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar komputer. Sumber tenaga laptop ini pun disesuaikan dengan kondisi lingkungan, misalnya dengan menggunakan engkol, panel surya bahkan ada yang menggunakan generator bertenaga sapi.

Belum disebutkan dengan jelas spesifikasi detail serta kapan mulai beredarnya PC Linux besutan Everex ini di pasaran.

Sementara laptop OLPC dikabarkan telah menerima pesanan dari Peru, Uruguay serta Mongolia. Dalam hal ini, OLPC juga harus berhadapan dengan Classmate PC besutan Intel.

Kontroversi Domain “.id” dan “.com”

Posted in Uncategorized pada 7:24 am oleh blackhunter

Jakarta – Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) mulai gerah dengan situs berakhiran .com (dot com). Situs ini dianggap hanya memboroskan bandwidth internet saja. Lebih baik domain situs berakhiran .id (dot id) dengan alasan menghemat devisa negara. Depkominfo sangat yakin, domain .com memboroskan devisa negara. Sebab, server-nya ada di luar negeri, yang berarti menggunakan bandwidth internasional, sedangkan kontennya berbahasa Indonesia dan diklik dari Indonesia.
Inilah yang dianggap sebagai pemborosan devisa negara. Meski tidak mencuat nilai pemborosan itu, namun diketahui bahwa pengguna .id masih sekitar 33.000 domain.
“Kita ingin meningkatkan trafik internet domestik, dan supaya justru yang dari luar negeri ambil konten yang ada di dalam negeri,” kata Lolly Amalia Abdullah, Direktur Infomasi, Perangkat Lunak, dan Konten Depkominfo, di sela Rapat Koordinasi Nasional Depkominfo.
Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, pengamat teknologi informasi dari Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) kepada SH di Jakarta, Senin (26/11) juga berkata: “Trafik domain .id itu hanya di lokal saja, paling-paling mampir ke Indonesia Internet Exchange (IIX). Sedangkan domain .com ke server luar”.
Aturan tentang penggunaan domain .id ini sudah dituangkan di Peraturan Menteri (Permen) No 28/PER/M.KOMINFO/9/2006. Tapi pihak Depkominfo sendiri kurang konsisten dengan aturan tersebut. Ini terbukti dari begitu banyak pemilik situs lokal yang lebih suka memakai domain .com tapi tak mendapat teguran apa pun oleh Depkominfo.
Namun, pelaku industri penyedia jasa layanan domain menanggap tuduhan Depkominfo berlebihan. Terlebih domain .com nilai komersialnya lebih tinggi dari domain .id. Coba saja menjual domain .com di luar negeri harganya bisa mahal.
“Saya malas menggunakan domain .id sebab mengurusnya lama. Sedangkan domain .com lebih cepat dan lebih mudah diingat,” komentar Avivah Yamani, pengelola website http://www.langitselatan.com. Pengaktifan domain.id bisa memakan waktu beberapa hari, sedangkan.com langsung diaktifkan begitu pelanggan membayar.
Saat ini pengelolaan domain.id dipegang oleh Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi) yang dimiliki Depkominfo. Domain termahal masih dipegang oleh .co.id yang diperlukan untuk kepentingan situs komersil lokal, yakni 100.000 rupiah per tahun.
Sedangkan domain .com hanya sekitar Rp 60.000-70.000. Pendaftaran .com bisa dilakukan ke sejumlah server yang menyediakan layanan pendaftaran domain hosting yang mayoritas berada di luar negeri.
Domain .com termahal saat ini adalah wallstreet.com yang dijual dengan harga US$ 3 juta. Namun rekor situs situs yang termahal masih dipegang situs-situs “orang dewasa” misalnya sex.com yang pada tahun 1994 di jual seharga US$ 12 juta dan porn.com seharga US$ 9.5 juta.
Tempat ketiga diduduki business.com seharga US$ 7,5 juta. Administrator Pandi melaporkan sudah adanya permintaan untuk nama domain .id yang mengandung nama “sex” yang tentunya ditolak karena nama tersebut mengandung kata-kata dalam daftar terlarang.
Selain itu kebijakan domain internet Indonesia saat ini memang kurang mengakomodasi bisnis jual beli nama domain di mana nama domain cenderung diberikan hanya berdasarkan peruntukan yang jelas.
Sementara ini ruang gerak untuk spekulan nama domain internet dan “websquaters” untuk .id masih cukup terbatas. Bagaimana ke depan tergantung perkembangan kebutuhan pasar dan kebijakan yang akan diterapkan.